Proses Pengoperasian Model TRANUS Bagi Seorang Planner

      Model TRANUS adalah alat (tools) riset  yang dapat digunakan untuk melakukan pemodelan transportasi dan guna lahan. Bagi seorang perencana kota (planner) sangatlah membantu untuk merancang simulasi kemungkinan efek proyek atau kebijakan di berbagai kota ataupun wilayah dan untuk mengevaluasi efek cara pandang ekonomi, pendanaan dan lingkungan.

        Selain itu, model TRANUS memiliki kelebihan dan kekurangan. Adapun kelebihan dalam model TRANUS adalah (1) Mampu menerpadukan sistem aktivitas (guna lahan) dan sistem transportasi, (2) Mampu memberi arahan simulasi pengembangan kota dalam jangka panjang dengan agregat waktu perencanaan dapat dilakukan hingga 30 tahun, (3) Mampu mengevaluasi program sehingga dapat melihat seberapa besar efek buruk perubahan yang telah dan akan terjadi. (4) Tidak ada batasan zona dan node yang disimulasikan dalam TRANUS, (5) Software gratis dan tanpa lisensi.  Akan tetapi, Model  TRANUS juga memiliki kelemahan yaitu dalam proses menjalankan program (running) sulit dilakukan ketika kurang data statistiknya dan ada jenis jaringan yang tidak terhubung secara utuh.  Jika dibandingkan dari 20 model perkotaan yang  berkembang saat ini maka TRANUS adalah bagian dari model perkotaan yang mengembangkan kota dengan menerpadukan antara guna lahan dan transportasi dan selalu update dalam perbaharuan softwarenya hingga tahun 2011.

      Dalam pengoperasiannya Model TRANUS sangatlah mudah untuk digunakan oleh planner karena didukung dengan teori dan literatur yang memadai. Secara ringkas tahapan proses pengoperasian TRANUS bagi planner terbagi dalam empat tahapan digambarkan sebagai berikut:

Proses Pengoperasian TRANUS

Tahap pertama, dilakukan dengan menentukan zona pengembangan dan titik koordinat x dan y dari zona pengembangan kota berdasarkan koordinat UTM. Selanjutnya, menyusun pohon skenario yang akan dilakukan berdasarkan agregat tahun pengembangan maksimum 30 tahun. Dalam mengembangkan pohon skenario dilakukan dengan perbandingan skenario kebijakan do-nothing (tidak ada intervensi) dan skenario kebijakan do-something (ada intervensi). Kebijakan skenario do-something didasarkan pada prinsip dan ide teori kota  yang akan dikembangkan dan peraturan berupa rencana tata ruang yang ada dan berlaku sekarang di kota yang akan dikembangkan.

Tahap kedua, dilakukan perumusan model TRANUS Kota yang akan dikembangkan yang terdiri dari tiga bagian yaitu model guna lahan, model antarmuka (interface) dan model transportasi. Dalam memodelkan guna lahan dan transportasi mencakup empat bagian yang akan diinput dalam TRANUS diantaranya variabel-variabel, batasan-batasan, asumsi-asumsi yang digunakan dan jenis kebijakan yang dilakukan di tiap skenario yang disimulasikan dalam tiap range waktu tiap lima tahun. Sementara itu, model interface   merupakan hubungan model penggunaan lahan (kegiatan) dan model transportasi dengan menyusun hubungan konsumsi dan produksi dari pergerakan penduduk dari beberapa kategori pergerakan yang telah ditentukan

Tahap ketiga, mengecek validasi dan me-running projek. Jika ada masalah pada validasi maka perlu dilakukan peninjauan kembali pada model yang dibangun baik variabel, batasan, asumsi maupun jenis kebijakan. Tetapi, jika validasi tidak memiliki masalah maka dilanjutkan me-running projek. Dalam me-running projek maka sering mengalami permasalahan eror yang menandakan ada kesalahan input dalam proses iterasi dan konvergensi hingga menentukan variabel, batasan, asumsi dan jenis kebijakan dari model guna lahan dan transportasi. Oleh karena itu, perlu pengecekan kembali pada iterasi, konvergensi dan model TRANUS yang dibangun. Sementara itu, jika dalam proses me-running projek tidak terjadi eror atau normal maka akan terbentuk tiga file indikator berbentuk file csv yaitu indikator transportasi, indikator lokasi guna lahan dan indikator rute. Selanjutnya, Indikator file csv di-convert ke file excel agar dapat dianaliais baik secara kuantitatif maupun secara spasial melalui GIS (ARGIS). Ketiga indikator tersebut berisi data kuantitatif dari model yang telah dibangun  seperti jarak perjalanan tiap operator, jumlah perjalanan tiap operator, jumlah konsumsi energi, pertumbuhan populasi, pertumbuhan tenaga kerja dan kepadatan populasi.

Tahap keempat, merupakan tahap terakhir yaitu menyusun indikator Kota yang akan dikembangkan, menyusun kerangka ukur ini berdasarkan tiap skenario dan memilih skenario terbaik dari beberapa skenario yang dikembangkan. Selanjutnya, menyusun kerangka ukur koya yang akan dikembangkan untuk melihat tren sehingga dapat mengambil tindakan yang tepat dalam pengambilan keputusan baik kebijakan transportasi maupun kebijakan guna lahan. Kerangka ukur ini sebagai alat analisis dari beberapa indikator, skenario dan tahun pengembangan kota tersebut. Akhirnya, dapat membandingkan beberapa skenario yang telah disimulasikan sehingga dapat dipilih skenario terbaik dalam pengembangannya.

         Dengan demikian, begitu pentingnya TRANUS sebagai alat pemodelan guna lahan dan transportasi  untuk mengembangkan kota. Planner dapat mengembangkan kotanya menggunakan alat simulasi TRANUS yang memiliki keunggulan lebih kuantitaif dan tidak tradisional dalam pengambilan keputusan karena dapat membandingkan pilihan skenario secara kuantitatif sehingga dapat dipilih skenario terbaik.

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s