Negara Maju dan Berkembang Boros Energi Termasuk INDONESIA. “Terus Harus Ngapain?”

Oleh: Zeji Mandala_Master in Urban and Regional Planning_Universitas Gadjah Mada_2014

        Konsumsi energi Bahan Bakar Minyak (BBM) di dunia mengalami pemborosan (inefisiensi) yang begitu besar khususnya untuk pergerakan transportasi dan industri. Padahal BBM termasuk sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui dan akan habis jika terus menerus dieksploitasi. Oleh karena itu, penggunaan BBM haruslah hemat agar krisis energi tidak melanda negara-negara di dunia. Seperti yang terlihat dalam gambar di bawah ini:

Gambar

Gambar: Konsumsi Energi Perkapita di Dunia

Sumber: http: theposkamling.com/wp-contet/uploads/2012/03, diakses 7 April 2014 di Perpustakaan Teknik Universitas Gadjah Mada

            Dilihat dari gambar di atas menunjukan bahwa negara-negara maju sebagian besar mengkonsumsi energi dalam skala besar khususnya di Eropa, Amerika dan Australia mencapai sekitar 5.000 hingga ≥ 10.000 kg/ kapita. Penggunaannya sebagian besar digunakan untuk kegiatan industri perusahaan besar dan pergerakan transportasi. Lain halnya dengan Indonesia masih termasuk dalam konsumsi energi dalam kategori menengah berkisar antara 500-2500 kg/kapita. Akan tetapi,  Indonesia lebih boros dikarenakan sebagian besar untuk melakukan pergerakan transportasi.

            Fakta lain mengungkapkan bahwa penggunaan energi BBM di negara-negara maju ataupun berkembang sejalan dengan jumlah penduduk yang ada. Sebagian besar penduduk menggunakan BBM untuk pergerakan transportasi dan industri. Seperti yang dirilis oleh the richest (2013) mengenai 10 negara yang boros dalam menggunakan energi BBM sebagai berikut:

Gambar

Melihat tabel di atas menunjukan bahwa penggunaan energi terbesar adalah di Amerika Serikat sebesar 19.150.000 barel/hari,  Cina sebesar 9.400.000 barel/hari dan Jepang sebesar 127.756.412 barel/hari yang sebagian besar digunakan untuk perusahaan industri besar dan transportasi. Beda halnya dengan Indonesia yang hanya 938.000 barel/hari namun sebagian besar digunakan untuk pergerakan transportasi.

            Di samping itu, tercatat penggunaan energi di Indonesia mengalami pemborosan BBM  yang cukup besar. Pemborosan penggunaan BBM di Indonesia disebabkan oleh aktivitas pergerakan masyarakat yang mengedepankan kendaraan pribadi dibandingkan kendaraan publik. Hal itu terjadi karena banyak yang memakai mobil pribadi hanya berpenumpang satu atau dua orang. Bahkan, dalam satu keluarga jika anak-anak sudah bekerja, mereka pun memakai mobil pribadi ke kantor. Asumsinya jika di Yogyakarta setiap hari sebuah mobil rata-rata menghabiskan 10 liter BBM per hari dengan jumlah 2 juta mobil/hari sehingga menghabiskan 20.000 kiloliter BBM. Jumlah ini belum termasuk BBM untuk sepeda motor yang jumlahnya ± 1 juta unit.

            Kerugian pemborosan kendaraan mobil dan motor di Indonesia mencapai Rp 14,8 triliun per tahun. Hal ini diindikasikan dari besarnya populasi kendaraan pribadi yang mencapai 92 % dibandingkan kendaraan publik yang hanya 8%. Jika dirinci pemborosan energi BBM dari kemacetan arus lalin dan padat kendaraan pribadi. Mobil menghabiskan BBM sebesar 1,75 liter/hari dan motor menghabiskan BBM sebesar 0,35 liter/hari. Jika diakumulasi berdasarkan nilai rupiah maka pemborosan mobil mencapai 6,559 Triliun/tahun sedangkan motor mencapai 8,238 Triliun/tahun sehingga total keseluruhan pemborosan sebesar 14,837 Triliun/tahun. Selain itu, penggunaan mobil pribadi dan motor berkontribusi kepada kemacetan di jalan raya yang banyak menghabiskan BBM yang diperkirakan kerugian akibat kemacetan mencapai Rp 65 triliun per tahun. Oleh karena itu, jika diakumulasi antara pemborosan energi dari kendaraan pribadi dan kemacetan mencapai 79,837 Triliun/tahun. Hal di atas menunjukan bahwa andil terbesar pemborosan energi adalah besarnya populasi kendaraan pribadi dibandingkan kendaraan publik yang menimbulkan kemacetan.

              Indonesia jelas lebih boros penggunaan BBM-nya dibandingkan negara lain di Asia bahkan Eropa dikarenakan lebih dominan dipergunakan untuk pergerakan transportasi pribadi. Lain halnya dengan negara yang kota-kota besarnya menerapkan transportasi publik seperti London (Inggris) dengan jalur Kereta Api (KA) bawah tanah “Tube”, Seoul (Korea) dengan jalur KA terpanjang di dunia mencapai 508 km, Munich (Jerman) dengan KA bawah tanah U-Bhan, S-Bhan, Bus dan Tram, Singapura dengan Mass Rapid Transit (Hanifah, 2013).   Salah satu penghematan energi dapat dilakukan melalui penghematan bahan bakar yang dilakukan melalui rekayasa transportasi dan guna lahan. Di samping itu, menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk melakukan gerakan hemat energi  tetap  harus dilakukuan dalam mencegah terjadinya krisis energi baik di negara maju maupun di negara berkembang.

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s