Pola Pergerakan Spasial dan Non Spasial Dalam Sistem Transportasi

 Oleh: Zeji Mandala_Master in Urban and Regional Planning_Universitas Gadjah Mada_2013

            Pola pergerakan dalam sistem transportasi terdiri dari 2 pola pergerakan, yakni: (1) Pola pergerakan spasial dan (2) Pola pergerakan non spasial (Tamin, 2000).

A. Pola pergerakan spasial

merupakan pola pergerakan yang dilakukan atas dasar kegiatan perjalanan di lokasi tertentu dengan memperhatikan kondisi tata guna lahan dari sebuah ruang/kawasan. Pergerakan spasial dalam ruang kawasan terdiri dari:

1. Pola perjalanan orang

Pola perjalanan yang dipengaruhi oleh aktivitas bekerja dan bermukim. Pola perjalanan ini memiliki sebaran spasial seperti perkantoran, permukiman dan pertokoan.

2. Pola perjalanan barang

Pola perjalanan yang dipengaruhi oleh aktivitas produksi dan konsumsi dengan ditandai adanya pergerakan  distribusi dari pusat produksi ke lokasi konsumsi.

Keduanya sangat bergantung pada sebaran pola tata guna lahan yang ada di kawasan tersebut.

        Adapun pandangan tentang klasifikasi pola pergerakan yang diungkapkan oleh Chapin (1965) terdiri dari 5 pola pergerakan yaitu:

  1. Radial: pergerakan yang berasal dari permukiman pinggiran kota menuju ke CBD untuk tujuan tertentu.
  2. Circumferential : Pergerakan yang berasal dan bertujuan di pinggiran kota.
  3. Through : pergerakan yang hanya melewati kota dengan asal dari laur kota.
  4. CBD (Central Bisnis District): Pergerakan yang hanya terjadi di CBD.
  5. Sub Urban Activity Center (SAC) : Pergerakan yang mengarah ke SAC/ pusat aktivitas pinggiran kota.

Seperti pada ilustrasi gambar di bawah ini:

Gambar 1_Sistem Klasifikasi Pergerakan

      Begitu pula, Tolley dan Turton (1995)  mengungkapkan bahwa beberapa prinsip pergerakan komuter dalam kawasan perkotaan terdiri dari:

  1. Dalam pusat kota
  2. Dari pinggiran kota menuju pusat kota
  3. Dari pusat kota menuju pinggiran kota dan luar kota
  4. Dalam pinggiran kota
  5. “Cross-Komuter” yaitu dari daerah pedesaan dan pinggiran kota

Seperti yang digambarkan di bawah ini:

Gambar 2_Pola Pergerakan Komuter di Perkotaan

            Di samping itu, tipe pola pergerakan dalam area amatan  menurut Roberts (1974) terdiri dari 4 pola pergerakan yaitu:

  1. Through movement/Eksternal-Eksternal: pergerakan yang hanya dilakukan dengan asal dan tujuan di luar kawasan amatan.
  2. Eksternal- Internal : Pergerakan yang dilakukan dengan titik awal pergerakan dari luar kawasan dan titik tujuan di kawasan amatan.
  3. Internal-eksternal : pergerakan yang dilakukan dengan titik asal kawasan amatan dan tujuan pergerakan ke luar kawasan amatan.
  4. Internal: pergerakan yang dilakukan dengan titik awal dan tujuan perjalanan di dalam kawasan amatan.

Seperti pada ilustrasi gambar di bawah ini:

Gambar 3_Tipe Pola Pergerakan

B. Pola pergerakan non spasial

merupakan pola pergerakan yang tidak mengenal batas ruang/kawasan. Pola pergerakan ini terdiri dari:

  1. Jenis sarana angkutan

Dalam melakukan perjalanan memilih jenis angkutan merupakan hal yang paling penting. Pemilihan angkutan biasanya mempertimbangkan beberapa faktor diantaranya maksud perjalanan, jarak tempuh, biaya dan tingkat kenyamanan.

2. Waktu pergerakan

Waktu terjadinya pergerakan sangat bergantung pada rutinitas orang melakukan kegiatan sehari-hari. Seseorang melakukan kegiatan dapat dilakukan di pagi hari, siang hari, malam hari tergantung dari maksud tujuan dari perjalanannya.

3. Alasan pergerakan

Alasan terjadinya pergerakan dapat dikelompokan berdasarkan tujuan dari pergerakannya yaitu berkaitan dengan pendidikan, sosial budaya, ekonomi, keagamaan dan sebagainya.

          Dengan demikian, pola spasial pergerakan dan  non spasial dilakukan atas dasar perjalanan orang dengan memperhatikan kondisi guna lahan kawasan/perkotaan. Dalam membentuk pola spasial pergerakan ini dicerminkan dengan adanya pergerakan orang yang menggunakan moda transportasi dalam waktu tertentu dengan alasan tujuan tertentu.

Daftar Pustaka

Chapin, F.S., (1965). Transportation and Land Use. In J. F. Stuart Chapin. Urban Land Use Planning. Edisi Kedua. Urbana: University of IlIinols Press, 339-369.

Roberts, M., (1974). Transportation. To Town Planning Techniques. London: Hutchinson Educational, 373-394.

Tamin, O.Z., (2000). Perencanaan dan Pemodelan Transportasi, Edisi kedua. Bandung: Institut Teknologi Bandung (ITB).

Tolley, R. & Turton, B., (1995). Transport Demand and Supply; Type of Movement. Transport System, Policy and Planning. Edisi Pertama. Singapura: Longman Scientific and Technical.

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s