KOTA HEMAT ENERGI

 Oleh: Zeji Mandala_Master in Urban and Regional Planning_Universitas Gadjah Mada_2013

        Kota hemat energi merupakan kota yang berupaya untuk mendayagunakan seluruh sumber energi secara efisien melalui konservasi energi (Budihardjo, 2009). Upaya penghematan energi sangatlah diperlukan dalam rangka memecahkan masalah perkotaan yaitu adanya pemborosan energi di semua sektor kegiatan perkotaan. Menurut Powel dalam Budihardjo (2009) menegaskan bahwa bangunan dan kegiatan sektor perkotaan yang ada di seluruh penjuru kota besar di dunia mengidap “Banal Similarity” yang sangat boros energi. Selanjutnya, diperkuat oleh arsitek singapura yang menyatakan bahwa Kota Singapura akan mampu menghemat energi kurang lebih 30% yang dikonsumsi apabila bangunan-bangunan pencakar langit dan sistem transportasinya dirancang sesuai dengan prinsip-prinsip konservasi energi. Jadi, kota hemat energi sangatlah diperlukan untuk direncanakan dalam konteks pembangunan perkotaan.

            Selama kurun waktu setengah abad, masyarakat di negara berkembang khususnya Indonesia tampaknya terpana dengan kecanggihan teknologi seperti penggunaan kendaraan bermotor, teknologi konstruksi bangunan yang serba konsumtif dan penggunaan fasilitas AC, lampu artifisial dan elevator. Hal ini ditegaskan oleh Karyono (2006) menyatakan bahwa lonjakan jumlah penduduk yang semakin tinggi dan penggunaan teknologi modern yang konsumtif energi oleh manusia mengancam penurunan kemampuan alam dalam mendukung kebutuhan hidup manusia. Begitu pula sejalan dengan pendapatnya Branch (1995) yang menegaskan bahwa peningkatan kepadatan penduduk dunia melalui proses urbanisasi terjadi paling besar di negara-negara sedang berkembang. Sejumlah besar kota yang berukuran lebih kecil namun memiliki jumlah penduduk lebih dari satu juta jiwa terjadi di negara-negara sedang berkembang. Seperti contoh data jumlah penduduk pada tahun 2000 di Rio De Jeneiro, Brasil (Amerika Selatan) sebanyak 19 juta jiwa, Beijing (Asia) sebanyak 19.9 juta jiwa, Tokyo/Yokohama (Asia) sebanyak 24,2 juta jiwa, Jakarta (Asia) sebanyak 16,6 juta jiwa dan Yogyakarta (Asia) sebanyak 497.699 jiwa yang hampir mendekati 1 juta jiwa.

            Lonjakan penduduk kota yang semakin tinggi dan penggunaan tekhnologi yang konsumtif energi memberikan gambaran bahwa penghematan energi sangatlah diperlukan. Hal ini sangatlah sejalan dengan pendapatnya Budihardjo (2009) yang mengungkapkan bahwa pembangunan kota haruslah hemat energi, banyak mendaur ulang dan mengurangi sumber daya yang tidak terbarukan (summary report on sustainable development).

            Hal penghematan energi sejalan dengan pendapatnya Yudhoyono (detik. com, 2005) menyatakan bahwa setiap kota diwajibkan untuk melakukan penghematan energi dikarenakan minyak bumi Indonesia akan habis sekitar 18 tahun, gas akan habis sekitar 60 tahun dan batu bara akan habis sekitar 150 tahun. Di samping itu, permasalahan-permasalahan lain yang terjadi di kota-kota besar di Indonesia seperti fenomena area fisik kota seolah menjadi sebuah pulau yang memancarkan panas di tengah hamparan kawasan kehidupan rural (urban heat island) diberbagai kota di Indonesia, penempatan fungsi-fungsi aktivitas yang memiliki radius cukup jauh yang tidak dapat ditempuh oleh berjalan kaki padahal termasuk dalam iklim tropis basah yang panas akibat sengatan matahari dan hujan, minimnya ruang terbuka hijau sebagai penetralisir suhu udara kota dan tumbuhnya bangunan-bangunan pusat aktivitas baru yang menimbulkan kemacetan sehingga menyedot Bahan Bakar Minyak (BBM) yang terbuang sia-sia (Karyono, 2006).

            Beberapa kota di mancanegara yang sudah berhasil menerapkan penghematan energi diantaranya: (1) Di Kota London yang menerapkan garden city dan green belt dengan panjang jalur sepeda dan jalur pejalan kaki sebesar 250 km, (2) Di Kota Nagoya Jepang dengan menerapkan kereta listrik (Densha) dan kereta bawah tanah (Cikatetsu) yang mampu mengangkut 1,1 jutat penumpang/hari, (3). Di Kota Curritiba Brazil menerapkan transportasi publik masal yang mampu mengurangi ketergantungan warga kota terhadap mobil pribadi yaitu 50 kali lipat dari sebelumnya, dan (4) Pemintakan zoning dan land readjusment di kota Toyama Jepang (Budi, 2007). Beberapa kota di atas, berhasil menghemat energi dengan merekayasa penerapan kebijakan sistem transportasi, manajamen lalu lintas dan guna lahan.

            Dengan demikian, sudah saatnya untuk memperhatikan pengembangan kota hemat energi yang mengedepankan dalam meminimalkan penggunaan sumber daya energi yang tidak terbarukan yang sewaktu-waktu habis mengakibatkan kota tidak berfungsi lagi (unsustain). Di samping itu, diperlukan pengaturan tata guna lahan yang kompak yaitu mendekatkan lingkungan permukiman dengan lapangan kerja dan sarana fasilitas sosial. Dengan adanya pengaturan tata guna lahan memberikan jaringan sirkulasi menjadi lebih pendek dan ringkas sehingga akan sangat efisien dan efektif dalam pengurangan konsumsi energi.  

DAFTAR PUSTAKA

Budihardjo, E dan Sudjarto,DJ.(2009). “Kota Berkelanjutann (Sustainable City)”. Bandung: PT.Alumni.

Budi, B.S., 2007. Membangun Kota Hemat Energi. WALHI Jawa Barat.

Branch, M. C. (1995). Perencanaan Kota Komperhensif: Pengantar dan Penjelasan (Comprehensive City Planning Introduction & Explanation). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

 Karyono, T.H., 2006. Kota Tropis Hemat Energi: Menuju Kota Yang Berkelanjutan di  Indonesia. Jurnal Teknik Lingkungan P3TL-BPPT 7, Hlm 63-71.

Yudhoyono, S.B., (2005). Pidato Presiden Republik Indonesia Tentang Pengehamatan Energi [online]. detik.com [diakses 27 September 2013 pukul 16.00 WIB di Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada].

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s