Curritiba Brazil

Oleh: Zeji Mandala_Master in Urban and Regional Planning_Universitas Gadjah Mada_2013

Curritiba Brazil sebagai World Class Sustainable Cities.

             Akhir-akhir ini, permasalahan yang terjadi di kota-kota besar baik di negara berkembang maupun di negara maju adalah sektor transportasi. Adapun permasalahan yang terjadi diantaranya:

a)      Kemacetan lalu lintas yang menghambat aktivitas kegiatan produktif,

b)     Tingginya konsumsi energi padahal sumber daya terbatas,

c)      Polusi udara yang menimbulkan pencemaran lingkungan,

d)     Meningkatnya pemakaian kendaraan pribadi dari pada kendaraan publik karena  kualitas transportasi yang kurang nyaman, kurang aman dan kurang terjangkau.

Padahal sektor transportasi merupakan sektor pendahulu (leading sector) yang memiliki tujuan utama pembangunan yang diarahkan pada penyediaan dan pembangunan jasa sarana dan prasarana sebagai pendorong dalam mendukung pertumbuhan ekonomi dan pembangunan kota yakni mendukung kegiatan produksi, peningkatan ekspor, memperluas lapangan pekerjaan dan kesempatan kerja terutama bagi masyarakat golongan ekonomi lemah.

            Kota Curritiba merupakan kota di Negara Brazil yang terletak sekitar 1.081 km dari Brazilia. Kota Curitiba mengalami pertambahan penduduk yang sangat pesat, yakni 360.000 jiwa pada tahun 1955 menjadi 3.307.000 jiwa pada tahun 2009 dengan total luas wilayah 430 kilometer persegi (Luciano, 2010).

            Pertumbuhan Kota Curitiba menjadi semakin cepat setelah tahun 1950 karena menjadi wilayah hubungan perdagangan dan jasa. Pertumbuhan kota yang tidak terkendali mendorong perencanaan kota yang ditekankan pada transportasi dan penghijauan lingkungan. Perencanaan kota pertama kali di Curitiba hanya pada pengembangan jalan-jalan dan fasilitas kota seperti pusat rekreasi dan industri. Namun hingga tahun 1970, Curitiba masih mengalami permasalahan ancaman ledakan penduduk yang menjadikan kota ini mengalami fenomena kemacetan dan banjir.

            Dengan kepadatan populasi penduduk yang besar, maka persoalan lingkungan dan konsumsi sumber alam menjadi problem bagi kota ini. Bahkan selama 70 tahun, Curitiba menjadi tempat bertumpuknya sampah kaleng dan kardus, Permukiman kumuh (Urban Sprawl) dan Kemiskinan. Dengan demikian, Kota Curritiba merupakan salah satu kota di negara Brazil yang mampu menciptakan konsep penghematan energi melalui sistem transportasi publik dan manajemen lalu lintas serta adanya strategi perencanaan transportasi yang memperhatikan tata ruang kota (land use) hingga  berhasil sebagai “World Class Sustainable Cities”.

Sejarah perkembangan struktur ruang  dan  transportasi Kota Curritiba, Brazil

            Pada awal tahun 1974 Kota Curritiba mengalami permasalahan transportasi yakni kemacetan dan meningkatnya jumlah pemakaian kendaraan pribadi dari pada kendaraaan publik. Yang kemudian pada awal tahun 1995 perkembangan sistem transportasi Kota Curritiba mengalami perubahan drastis positif sejak Jaime Lerner menjadi Walikota. Begitu pula dengan struktur ruang kotanya yakni dengan cara menerapkan strategi dan konsep perencanaan pembangunan  dengan mengubah desain tata kota Curritiba yang semula terpusat menjadi linear seperti pada gambar di bawah ini:

Gambar 1: Evolusi Jaringan Transportasi Terpadu – RIT dan Perkembangan Struktur Ruang Kota Curritiba Brazil (1974-1980)

Gambar  2:  Desain 3D Struktur “Linier” Tata Ruang Kota Curritiba

Gambar  2:  Desain 3D Struktur “Linier” Tata Ruang Kota Curritiba

Sumber: IPPUC/Banco de Dados (Dokumen Rencana Induk Kota Curritiba)

            Desain linear tata Kota Curritiba seperti pada gambar di atas memiliki esensi yakni Kota Curitiba tidak tumbuh di segala arah dari pusat/inti kota, melainkan tumbuh di sepanjang koridor dalam bentuk linier. Jantung kota gedung-gedung komersial, pemerintahan, pendidikan atau bisnis diletakkan dalam satu situs, sementara tempat tinggal penduduk dibuat mengitari. Struktur kota yang linier merupakan model spasial yang dapat digunakan untuk mencapai keberlanjutan karena terjadi penghematan energi dengan mengurangi waktu perjalanan.

            Selain itu, dalam sektor transportasinya pemerintah Kota Curitiba membangun jalan-jalan penghubung dari tempat tinggal penduduk langsung menuju pusat kota. Dalam urusan transportasi, Curitiba menerapkan trinary road sistem. Ini adalah model jalanan yang menggunakan dua jalur jalan besar yang berlawanan arah. Namun, yang istimewa, ada dua jalur sekunder di tengah yang dimanfaatkan sebagai jalur ekslusif untuk busway (Gambar 3)

Gambar 3:  Model “Trinary Road Sistem” di  Kota Curritiba tahun 2000

Gambar 3: Model “Trinary Road Sistem” di  Kota Curritiba tahun 2000

Sumber: IPPUC/Banco de Dados (Dokumen Rencana Induk  Kota Curritiba)

            Hampir semua jalanan di Kota Curitiba menerapkan sistem ini.  Jalan raya yang diubah menjadi rute bus telah memacu perumahan dengan kepadatan tinggi seperti pembangunan apartemen di sepanjang jalur peregangan. Dengan mengubah jalan raya menjadi rute bus bertujuan untuk mengurangi tingakat kepadatan rumah yang tinggi di Kota Curritiba.

Permasalahan Kota Curritiba, Brazil

Kota Curritiba merupakan kota di Negara Brazil yang terletak sekitar 1.081 km dari Brazilia. Kota Curitiba mengalami pertambahan penduduk yang sangat pesat, yakni 360.000 jiwa pada tahun 1955 menjadi 3.307.000 jiwa pada tahun 2009 dengan total luas wilayah 430 kilometer persegi (Luciano, 2010).

            Pertumbuhan Kota Curitiba menjadi semakin cepat setelah tahun 1950 karena menjadi wilayah hubungan perdagangan dan jasa. Dengan kepadatan populasi penduduk yang besar, maka persoalan lingkungan dan konsumsi sumber alam menjadi permasalahan bagi kota ini. Akibat pertumbuhan penduduk yang sanga pesat maka muncul permasalahan transportasi Kota Curritiba; Brazil yaitu:

a)      Kemacetan lalu lintas,

b)     Tingginya konsumsi energi,

c)      Polusi udara dan pencemaran lingkungan,

d)     Meningkatnya pemakaian kendaraan pribadi dari pada kendaraan publik karena  kualitas transportasi yang kurang nyaman, kurang aman dan kurang terjangkau.

            Bahkan selama 70 tahun, Curitiba menjadi tempat bertumpuknya sampah kaleng dan kardus, Permukiman kumuh (Urban Sprawl) dan Kemiskinan.

Gambar 4: Fase Pertumbuhan Penduduk Kota Curritiba;Brazil

Gambaran umum Kota Curritiba, Brazil

Curitiba merupakan salah satu kota di Negara Brazil yang terletak sekitar 1.081 km dari Brazilia. Curitiba sendiri merupakan Ibukota Negara Bagian Brazil Parana. (Gambar 5)

Gambar 5:  Lokasi Curitiba

Gambar 5:  Lokasi Curitiba

Sumber: IPPUC/Banco de Dados (Dokumen Rencana Kota Curritiba)

Kota Curitiba mengalami pertambahan penduduk yang sangat pesat, yakni 360.000 jiwa pada tahun 1955 menjadi 3.307.000 jiwa pada tahun 2009 dengan total luas wilayah 430 kilometer persegi (Luciano, 2010). Hal tersebut disebabkan karena Curitiba menjadi tujuan untuk bertempat tinggal oleh para imigran yang berasal dari Eropa, seperti pada gambar 6 di bawah ini:

Gambar 6: Evolution and Urban Growth

Gambar 6: Evolution and Urban Growth

Sumber : Luciano.2010. World Class Sustainable Cities. Kuala Lumpur

Pertumbuhan Kota Curitiba menjadi semakin cepat setelah tahun 1950 karena menjadi wilayah hubungan perdagangan dan jasa. Pertumbuhan kota yang tidak terkendali mendorong perencanaan kota yang ditekankan pada transportasi dan penghijauan lingkungan. Perencanaan kota pertama kali di Curitiba hanya pada pengembangan jalan-jalan dan fasilitas kota seperti pusat rekreasi dan industry. Namun hingga tahun 1970, Curitiba masih mengalami permasalahan ancaman ledakan penduduk yang menjadikan kota ini mengalami fenomena kemacetan dan banjir.

Gambar 7:  Kondisi Kota Curritiba pada Tahun 1974

Gambar 7:  Kondisi Kota Curritiba pada Tahun 1974

Sumber : Luciano.2010. World Class Sustainable Cities. Kuala Lumpur

Gambar 8:  Kondisi Kota Curritiba tahun 2010

Gambar 8:  Kondisi Kota Curritiba tahun 2010

Sumber : Luciano.2010. World Class Sustainable Cities. Kuala Lumpur

Dengan kepadatan populasi penduduk yang besar, maka persoalan lingkungan dan konsumsi sumber alam menjadi problem bagi kota ini. Bahkan selama 70 tahun, Curitiba menjadi tempat bertumpuknya sampah kaleng dan kardus, Permukiman kumuh (Urban Sprawl) dan Kemiskinan . Segala permasalahan tersebut akhirnya menemukan titik terang setelah seorang arsitek bernama Jaime Lerner menjadi Walikota Curitiba.

Solusi Permasalahan Kota Curritiba, Brazil: Transportasi publik dan jalur pejalan kaki

            Curitiba merupakan  kota dengan perencanaan dan investasi transportasi publik yang bisa diakses dan terjangkau. Transportasi publik yang digunakan di Curitiba adalah Bus Rapid Transit (BRT). Penggunaan BRT didasarkan atas biaya standar antara tiga mode utama transportasi umum yaitu Kereta Api Bawah Tanah, Kereta Api Sistem Cahaya, dan BRT. Berikut Tabel Perkiraan Biaya Pembangunan Transportasi Publik di Kota Curritiba Brazil sebagai berikut:

Tabel Perkiraan Biaya Pembangunan Transportasi Publik

di Kota Curritiba Brazil

No

Jenis Moda Transportasi Publik

Biaya Pembangunan Jalur

Waktu Tempuh Pembangunan

Kereta Api Bawah Tanah $ 100 Juta/ Km 30 Tahun
Kereta Api Sistem Cahaya $ 20 Juta/Km 10 Tahun
Bus Rapid Transir (BRT) $ 1-2 Juta/ Km 2-3 Tahun

Sumber : http://urbanhabitat.org/node/344 dalam (Laube & Schwenk, 2007)

            Biaya yang dikeluarkan untuk pembangunan jalur Kereta Api Bawah Tanah adalah $ 100 juta per kilometer dan Kereta Api Sistem Cahaya adalah $ 20 juta per kilometer, sedangkan BRT adalah $ 1 sampai 2 juta per kilometer. Waktu yang dibutuhkan untuk membangun sistem BRT adalah dua sampai tiga tahun, sedangkan Kereta Api Bawah Sistem Cahaya selama 10 tahun dan Kereta Api Bawah Tanah selama 30 tahun (Laube & Schwenk, 2007). BRT menjadi solusi dalam mengurangi dana penyediaan transportasi publik dengan tetap meningkatkan fungsinya.

            Eryudhawan (2009) mengungkapkan bahwa sistem transportasi Curitiba diciptakan dengan pendekatan Transit Oriented Development (TOD). Pembangunan dengan kepadatan tinggi dikonsentrasikan di sepanjang lima koridor linear yang menyebar ke arah luar pusat kota lama. Fungsi perumahan, perkantoran, pendidikan, dan kegiatan komersial dipusatkan pada koridor yang dilalui oleh arus pergerakan penumpang yang mencapai 2 juta penumpang setiap harinya. Koridor tersebut menjadi pusat kota yang linear dengan pusat kota lama yang diubah menjadi kawasan pejalan kaki. (Gambar 9 dan Gambar 10 )

Gambar 9:  Lima Koridor Linier Kota Curritiba dan Integrasi jaringan Trasnportasi Kota Curritiba Tahun 2003

Gambar 9:  Lima Koridor Linier Kota Curritiba dan Integrasi jaringan Trasnportasi Kota Curritiba Tahun 2003

Sumber: IPPUC/Banco de Dados (Dokumen Rencana Induk Transportasi Kota Curritiba)

Gambar 10: Pata Jaringan Sarana Prasarana Transportasi Kota Curritiba (1999)

Gambar 10: Pata Jaringan Sarana Prasarana Transportasi Kota Curritiba (1999)

Sumber: IPPUC/Banco de Dados (Dokumen Rencana Induk Transportasi Kota Curritiba)

             BRT adalah alat transportasi utama yang menyenangkan dan menjadi keunggulan. Sistem busway itu direncanakan berdasarkan rencana induk kota yang bertujuan untuk menahan laju urban sprawl, menekan volume lalu lintas kendaraan bermotor yang masuk ke pusat kota, melestarikan bagian kota yang bersejarah, dan membangun sistem transportasi umum yang nyaman dan terjangkau. Prinsip utama yang dipergunakan adalah pembangunan kota yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan manusia, bukan mobil.

            Navastara (2007) menjelaskan bahwa terdapat 12 terminal penumpang di Curitiba, yang tersebar di seluruh penjuru. Terminal-terminal tersebut memberi kemudahan karena memungkinkan penumpang dapat meninggalkan dan berganti bus tanpa harus membeli tiket baru. BRT dirancang seperti sistem kereta api bawah tanah yang melaju di jalur eksklusif tanpa hambatan. Jalur eksklusif tersebut steril dari kendaraan lain dan digunakan oleh busway dua arah. Jalur itu diapit oleh jalan kendaraan pribadi di kedua sisinya. Dalam keadaan darurat, koridor busway dapat digunakan untuk ambulans dan kendaraan polisi namun tidak menimbulkan masalah karena koridor BRT merupakan jalur dua arah yang memungkinkan kendaraan menyalip.

            Dharma (2005) menerangkan bahwa selain pembangunan jakur BRT, Curitiba juga membangun jalur khusus untuk sepeda sepanjang 150 kilometer. Sistem BRT sepanjang 72 kilometer sangat ditunjang oleh keberpihakan kota pada kepentingan pejalan kaki. Beberapa ruas jalan yang padat dengan pertokoan ditutup bagi kendaraan bermotor dan diubah menjadi daerah khusus untuk sirkulasi pejalan kaki saja. (Gambar 4.2.3)

Gambar 11: Jalur Pejalan Kaki di Kota Curritiba Brazil

Gambar 11: Jalur Pejalan Kaki di Kota Curritiba Brazil

Sumber: IPPUC/Banco de Dados (Dokumen Rencana Induk Transportasi Kota Curritiba)

            Dapat dipastikan bahwa calon penumpang dapat mencapai halte dalam jarak tidak lebih dari 400 meter. Proses pencapaian ke halte juga dibuat senyaman mungkin lewat zebra cross karena pembuatan jembatan penyeberangan dianggap tidak akrab bagi penyandang cacat dan orang tua  Seiring dengan itu, dibangun pula jalur sepeda (bikeways) di sepanjang koridor busway yang mencapai 130 kilometer.

DAFTAR PUSTAKA

Anonymous. (1974-2004).  “Rencana Induk Kota Curritiba (Plano Diretor Curritiba)”. Brazil: IPPUC/Banco de Dados.

http://ippucweb.ippuc.org.br/ippucweb/sasi/home/default.php diakses pada tanggal 6 Juni 2012 pukul 19.30 di Perpustakaan Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada.

Anonymous. (1974-2004).  “Rencana Induk Transportasi Kota Curritiba (Plano Diretor Transporte Curritiba): Evolusi Transportasi Jaringan Terpadu”. Brazil:   IPPUC/Banco de Dados.

http://ippucweb.ippuc.org.br/ippucweb/sasi/home/default.php diakses pada tanggal 6 Juni 2012 pukul 19.30 di Perpustakaan Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada.

Anonymous. (1999,2000).  “Rencana Induk Transportasi Kota Curritiba (Plano Diretor Transporte Curritiba): Prasarana dan Sarana Dasar Transportasi”. Brazil:   IPPUC/Banco de Dados.

http://ippucweb.ippuc.org.br/ippucweb/sasi/home/default.php diakses pada tanggal 6 Juni 2012 pukul 19.30 di Perpustakaan Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada.

Anonymous. (1999).  “Rencana Induk Transportasi Kota Curritiba (Plano Diretor Transporte Curritiba): Karakteristik Sistem Bus Transit”. Brazil:   IPPUC/Banco de Dados.

http://ippucweb.ippuc.org.br/ippucweb/sasi/home/default.php diakses pada tanggal  6 Juni 2012 pukul 19.30 di Perpustakaan Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada.

Anonymous. (1974-2004).  “Rencana Induk Transportasi Kota Curritiba (Plano Diretor Transporte Curritiba): Integreted Transport Network. Brazil:   IPPUC/Banco de Dados.

http://ippucweb.ippuc.org.br/ippucweb/sasi/home/default.php diakses pada tanggal 6 Juni 2012 pukul 19.30 di Perpustakaan Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada.

Dewi, Aryani Kartika. (2011). “Konsep, Prinsip dan Strategi Perencanaan Greeter London Amerika Serikat”. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.

Branch, M. C.  (1995) (diterjemahkan). “Perencanaan Kota Komperhensif: Pengantar dan Penjelasan (Comprehensive City Planning Introduction & Explanation)”. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Budihardjo, E dan Sudjarto,DJ.(2009). “Kota Berkelanjutann (Sustainable City)”. Bandung: PT.Alumni.

Dharma, A. (2005). “Sustainable Compact City Sebagai Alternatif Kota Hemat Energi”. Makalah disajikan pada Seminar Nasional Arsitektur dan Penghematan Energi Jurusan Arsitektur Universitas Gunadarma, Depok 5 September 2005. diakses pada tanggal 12 Juni 2012 pukul 16.00 di Perpustakaan Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada

Eryudhawan, Bambang. (2009). “Busway di Curitiba”. http://tempoonline.com/2009/busway-di-curitiba/[1 Mei 2010], diakses pada tanggal 12 Juni 2012 pukul 16.00 di Perpustakaan Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada. http:Repository.upi.edu/operator/upload/s_d015_050889_chapter2. pdf diakses tanggal 2 Juli 2012 di Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada

Hare, (2009). “A city for people, not for cars”. http://www.citiesforpeople.net/cities/curitiba.html. di akses pada tanggal 14 Juni 2012, pukul 15.30 di Perpustakaan Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM).

Hariyono, Paulus. (2010). ”Perencanaan Pembangunan Kota dan Perubahan Paradigma”. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Krippendorff, K. (1993).  Analisis Isi: Pengantar Teori dan Metodologi (Content Analysis: Introduction to its Theory and Metodelogy).  Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada

Laube & Schwenk. (2010). “Curitiba’s Bus System is Model for Rapid Transit “ http://urbanhabitat.org/node/344 di akses pukul 15.00 di akses pada tanggal 14 Juni 2012, pukul 15.30 di Perpustakaan Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM). diakses pada tanggal 12 Juni 2012 pukul 16.00 di Perpustakaan Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada.

Luciano. (2010). World Class Sustainable Cities. Kuala Lumpur

Navastara, Ardy. (2007). Belajar dari Kota Curitiba: Penerapan Budaya Ekologis”. http://jepits.wordpress.com/2007/12/19/belajar-dari-kota-curitiba-penerapan-kota-ekologis/ [1 Mei 2010] diakses pada tanggal 12 Juni 2012 pukul 16.00 di Perpustakaan Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada.

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s