TOKOH PERENCANA DUNIA “BENEDICT RICHARD O’GORMAN ANDERSON”

Presentor : Zeji Mandala_Reviewer: Akhmad Fais Fauzi

Master in Urban and Regional Planning_Universitas Gadjah Mada_2013

Benedict Richard O’Gorman Anderson adalah seorang  profesor emeritus dalam bidang Studi Internasional di Universitas Cornell. Ia dikenal dengan karyanya “Imagined Communities”. Dalam bukunya tersebut ia menggambarkan faktor-faktor utama yang menyebabkan munculnya nasionalisme di dunia selama tiga abad terakhir. Pendekatannya yang digunakannya yaitu pendekatan materialis historis atau Marxis. Benedict Anderson juga diakui secara luas sebagai pakar sejarah dan politik Indonesia pada abad ke-20.

LATAR BELAKANG/BIOGRAFI

            Benedict Anderson  adalah seorang ahli geografi politik yang dilahirkan di Kunming, Tiongkok, 26 Agustus 1936. Ia dibesarkan sebagian besar di California. Saudaranya, Perry Anderson, adalah seorang intelektual Marxis.

            Background pendidikan Anderson yaitu menyelesaikan S1 dan S2-nya di Classics Cambridge University (1957). Ia melanjutkan ke jenjang S3 (Ph.D) di Cornell University (1958) dan selanjutnya mengambil penelitian di Indonesia (1965) yang hasilnya dikenal dengan ‘Cornell Paper‘. Setelah itu Anderson menjadi Professor Emeritus bidang studi Internasional di Cornell University hingga pensiun (1967-2002).

            Pengalaman karir Benedict Anderson yaitu pada tahun 1966 dan 1984 menjadi editor Jurnal Interdisipliner Indonesia. Beberapa studinya yaitu mengenai politik dan hubungan internasional pemerintah Indonesia (1964), hak asasi manusia (1976) dan peran di Timor Timur (1980). Analisis dan pandangan-pandangannya yang kritis menyebabkan Anderson dilarang masuk ke Indonesia selama bertahun-tahun oleh pemerintahan Orde Baru di bawah kekuasaan Presiden Soeharto. Kemudian setelah Soeharto jatuh dari kekuasaannya, Anderson dapat kembali lagi berkunjung ke Indonesia.

            Selain di Indonesia, pada tahun 1970 Benedict Anderson juga menjadi pakar untuk regional Asia Tenggara. Contohnya mengenai konflik militer antara Kamboja, Vietnam dan China. Pada tahun 1983 Anderson menghasilkan “Imagined Communities” edisi pertama. Kemudian dilanjutkan edisi berikutnya pada tahun 1991 dan 2006. Anderson memandang Imagined Communities sebagai refleksi dari penyebaran nasionalisme. Hal ini mendorongnya untuk menganalisis pentingnya konflik dan daya tarik politik nasionalis. Beberapa karya lain dari Benedict Anderson selain Imagined Communities yaitu :

  • Java in a Time of Revolution
  • Debating World Literature
  • Language and Power: Exploring Political Cultures in Indonesia
  • The Spectre of Comparisons
  • Under Three Flags: Anarchism and the Anti-Colonial Imagination
  • “Benedict Anderson: Gurobariseshon wo kataru” (Benedict Anderson on Globalization)
  • “Yashigara-wan no Soto he” (Out from Under the Coconut Halfshell)

 KONTEKS TEORI

            Anderson mengungkapkan bahwa konsep bangsa (nation) melahirkan jiwa nasionalisme/paham semangat kebangsaan. Konsep bangsa dan nasionalisme menimbulkan adanya ruang (space) yang terbentuk berupa teritorial baru yang memiliki kedaulatan. Selanjutnya, konsep ini memberikan dampak adanya masalah ruang berupa konflik perbatasan teritorial wilayah dan adanya politik nasionalis. Dengan begitu, dibutuhkan adanya peta sebagai logoisasi ruang politik dan reproduksi kedaulatan nasional masyarakat dalam suatu negara. Berikut adalah ilustrasi yang digambarkan oleh Mandala (2012) :

Gambar 1 Konteks teori anderson

Gambar 1: konteks teori pemikiran Anderson

Sumber: diilustrasikan oleh penulis, 2012

             Sebab utama munculnya nasionalisme dan terbentuknya suatu imagened communities atau komunitas khayal menurut Anderson adalah berkurangnya akses istimewa terhadap bahasa-bahasa tertentu, gerakan untuk menghapuskan gagasan pemerintahan monarki dan dinasti agama, serta munculnya mesin cetak di bawah suatu sistem kapitalisme atau Anderson menyebutnya ‘kapitalisme cetak’.

KONTRIBUSI SPASIAL

  1. Konsep Bangsa

            Bangsa merupakan komunitas politik persaudaraan secara horisontal yang digambarkan dengan dasar keterbatasan ruang dan kedaulatan (souvereignty). Keterbatasan ruang artinya teritorial suatu bangsa hanya berlaku dalam entitas sosial dan demografis dari bangsanya sendiri yang digambarkan dengan konsep kedaulatan. Di samping itu, kedaulatan suatu bangsa dicerminkan dengan adanya konseptualisasi dan aturan yang berlaku di teritorial/wilayah tersebut berupa alat pemersatu bangsa seperti: konstitusi dan falsapah negara, bahasa, lagu kebangsaan, lambang negara, bendera kebangsaan dan semboyan kebangsaan. Dengan demikian, kekuatan suatu bangsa sangat ditentukan oleh kekuatan komunitas yang membentuk ruang dengan jiwa semangat kebangsaan (nasionalisme).

  1. Konsep Nasionalisme

           Konsep nasionalisme merupakan konsep semangat kebangsaan yang didasarkan oleh adanya kesamaan bahasa dan tradisi yang membentuk teritorial dengan adanya pengakuan kedaulatan. Konsep nasionalisme muncul manakala bangsa memiliki cita-cita yang sama untuk kehidupan masyarakat. Jadi, nasionalisme menjadi persyaratan mutlak bagi hidupnya suatu bangsa.

Contoh Kasus

Kasus proses dari terbantuknya bangsa dan nasionalisme yaitu seperti pada negara Timor Leste. Pada awal kemerdekaan bangsa Indonesia tahun 1945, Timor Leste atau Timor Timur termasuk dalam teritorial bangsa Indonesia dengan semangat nasionalisme bangsa Indonesia. Akan tetapi, pada tahun 1999 timor-timur menjadi bangsa sendiri dengan membentuk teritorial sendiri dan adanya pengakuan kedaulatan serta semangat nasionalisme bangsa Timor Leste.

KRITIK TERHADAP PEMIKIRAN BENEDICT ANDERSON

1. Sidaway (2000)-ahli geografi

            Konsep penggambaran komunitas regional adalah konsep yang berkelanjutan yang mana pemanfaatan geografis dapat dimungkinkan untuk dihubungkan dengan tema ruang, mobilitas dan bangsa.

2. Angela Martin-ahli geografi

            Penggambaran masyarakat yang dituangkan dalam konsep imagened communities dan nasionalisme belum menggambarkan dimensi fisik, ekonomi dan peran gender.

3. Edward Said (1993)

            Anderson terlalu linear karena mengklaim bahwa perubahan struktur politik dan lembaga negara adalah dari negara dinasti menjadi negara berdaulat yang dipengaruhi oleh standarisasi dan print kapitalisme.

4. Partha chaterjee (1993)àoposisi anderson ahli geografi

            Rumusan anderson (imagened communities dan nasionalisme)  terlalu sederhana sulit untuk diterapkan pada negara-negara yang kekuasaannya beragam, multi pluralis dan situasi kolonial.

DAFTAR PUSTAKA

Hague, E., (2011). Benedict Anderson  In P.H.A.R. Kitchin  (ed.) Key Thinkers on Space  and  Place.  Second  edition  ed.  London:  SAN  DIEGO  STATE UNIVERSITY, SAGE Publications Ltd.

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s