TRANSPORTASI INFORMAL (PARATRANSIT) DAN KARAKTERISTIKNYA

Oleh: Zeji Mandala_Master in Urban and Regional Planning_ Universitas Gadjah Mada_Juni 2013

            Transportasi merupakan kegiatan atau tindakan memindahkan muatan (manusia/barang) dari suatu ke tempat lain dari satu tempat asal ke tempat tujuan, dari daerah perkotaan ke perdesaan, dari rumah ke sekolah, ke tempat kerja dan lain sebaginya. (Adisasmita, 2011). Adanya perpindahan manusia dan barang dari suatu tempat ketempat lainnya karena ada kegunaan. Kegunaan yang ditimbulkan karena perpindahan tempat atau perbedaan tempat sering kita sebut kegunaan tempat (time place) sedangkan kegunaan yang diakibatkan oleh betapa berharganya waktu yang diperlukan untuk melakukan pergerakan dalam moda transportasi sering kita sebut kegunaan waktu (time utility). Kegunaan tempat (time place) dan kegunaan waktu (time utility) diciptakan karena jasa transportasi dengan menggunakan moda transportasi dan prasarana jalan.

            Paratransit atau sering kita sebut transportasi informal merupakan moda  transportasi yang pelayanannya disediakan oleh  operator dan dapat digunakan oleh setiap orang  dengan kesepakatan diantara penumpang dan pengendara, dengan menyesuaikan keinginan dari pengguna. Pergerakan moda Paratransit memilki rute dan jadwal  yang dapat dirubah sesuai pengguna perorangan  lebih tertuju sebagai demand responsive. Konsep pola demand responsive menurut black (1995) sebagai berikut:

     Demand-responsive/ A dial-a-ride transit system are there service petterns:

1.    Many-to-one: Passengers are picked up anywhere but are delivered to only one place, such as a major employment site.

2.    Many-to-few: Passengers are taken to only a few places, such as downtown, a shopping center and a hospital.

3.    Many-to-many: Origins and Destinations may be anywhere in the service area.”

(Black,1995:133)

            Di samping itu, Isfanari dkk (2011) menegaskan bahwa ojek sepeda motor (Paratransit) dapat dikatakan sebagai alat transportasi yang sangat tanggap terhadap kebutuhan konsumen (demand responsive) yang mampu mengisi kekosongan transportasi formal. Selain itu, Paratransit merupakan alat transportasi yang memiliki posisi yang kuat dan berpeluang untuk dikembangkan dengan meningkatkan pelayanan pada pengguna angkutan (Progresif Strategy). Seperti halnya yang diungkapkan Black (1999) tentang pelayanan Paratransit yang memiliki sifat demand responsive sebagai berikut:

Service can be demand-responsive transit in two ways: (1). Routing-the vehicle goes exactly where the passengger wants (door to door service) and (2). Scheduling-the vehicle arrives when desired by the passenger. (Black,1995:132-134)

            Khisty dalam Handayani (2009) memperjelas dan menambahkan bahwa sistem  pelayanan Paratransit mampu menawarkan (1). Layanan pintu ke pintu perseorangan, (2). Layanan patungan dengan rute yang ditentukan oleh penumpang masing-masing atau (3). Layanan biasa disepanjang rute yang ditentukan, dalam hal tertentu serupa dengan bus.

            Dengan adanya sistem pelayanan Paratransit yang mudah dan memiliki keluesan serta tidak kaku dalam pelayanannya maka Paratransit  tentulah berkembang di Indonesia. Cervero (2007) menyatakan bahwa transportasi tidak resmi (informal) sangat populer di negara-negara berkembang di dunia seperti halnya di Indonesia. Alat  transportasi informal di Indonesia yang berkembang antara lain becak, ojek (motorcycle taxis), bajaj, bemo, mikrolet dan minibus. Dengan berkembangnya Paratransit di negara-negara berkembang khususnya di Indonesia maka masing-masing Paratransit memiliki karakteristik dalam mengoperasikannya. Berikut karakteristik operasi Paratransit sebagai transportasi informal sebagai berikut:

Operating characteristics paratrasnit which have been noted in the lietrature-all of which are in one way or another clearly associated with its conditions of informality-are:

  1. The prevalence of “non-corporate” business practices […]
  2. Erratic or flexibele Scheduling […]
  3. Aggressive and often dangerous on-road driver behaviour, including overloading, cutting off competitors and ignoring trafficregulations and signals […]
  4. A relatively poor safety record […].”

(World Bank, Cervero dan Golub dalam Wilkinson, 2008:481)

            Selain itu, Handayani (2009) menyimpulkan bahwa keberadaan Paratransit menunjukkan adanya kebutuhan  (demand) angkutan umum dengan karakteristik operasional pelayanan seperti yang dimiliki ojek saat ini yaitu (1). Cepat, (2). Dapat melakukan pelayanan diluar batas wilayah kota, (3). Waktu operasional pelayanan 24 jam, (4) Pekerjaan sebagai operator ojek adalah salah satu bentuk pekerjaan informal yang dapat membantu masyarakat dalam mencukupi kebutuhan hidup.

            Selain itu, Putri (2008) manemukan bahwa karakteristik pelayanan Paratransit memiliki keterkaitan erat dengan pola keruangan kawasan  yang dipengaruhi oleh pola guna lahan dan sebaran kegiatan. Paratransit terkonsentrasi di guna lahan komersial dan permukiman dengan pola pergerakan berasal dan menuju komersial dan permukiman.

            Dengan demikian, Paratransit merupakan moda transportasi informal seperti becak, andong, ojek sepeda motor, taksi plat hitam, bentor, bajaj, microlet dan sebagainya yang memilki karakter berbeda dengan transportasi formal. Paratransit sangat tanggap terhadap kebutuhan konsumen (demand responsive) yang mampu mengisi kekosongan transportasi formal sehingga terus berkembang.  Paratransit dalam melakukan operasinya memiliki karakter pelayanan yaitu (1) Cepat dan dapat menjangkau di luar batas wilayah, (2) Beroperasi 1 hari penuh/tidak memiliki jadwal tetap dan trayek, dan (3) Penentuan harga berdasarkan kesepakatan antara penumpang dan pengendara dan (4)  Memiliki keterkaitan erat dengan pola keruangan kawasan  yang dipengaruhi oleh pola guna lahan dan sebaran kegiatan.

DAFTAR PUSTAKA

Adisasmita, S.A., (2011). Transportasi dan Pengembangan Wilayah. Konsep Dasar Transportasi dalam Pembangunan; Transportasi Menciptakan Place Utility dan Time Utility. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Black, A., (1995). Paratransit. Urban Mass Tranportation Planning. Edisi Pertama. Singapura: Mc Graw-Hill.

Carvero, R., (2000). Informal Transport in Developing  World. Informal Transportation: Definitions, Markets and Organizations. Nairobi: United nations Center for Human Settlements (Habitat).

Handayani, D., Mochtar, I.B. & Soemitro, R.A., (2009). Karakteristik Alat Transportasi Informal  Ojek Sepeda Motor di Perkotaan (Studi Kasus Kota Surakarta)  Seminar Nasional Pascasarjana IX Institute Teknologi Sepuluh November Surabaya.

Isfanari, H.S., Achmad Wicaksono, (2011). Kajian Karakteristik Angkutan Ojek Sepeda Motor dan Cidomo di Kota Mataram. Jurnal Rekayasa Sipil, 5, 84-94.

Putri, E.P., (2009). Keterkaitan Antara Karakteristik Pelayanan Paratransit dengan Pola Keruangan Kawasan di Kelurahan Ancol dan Sekitarnya, DKI Jakarta. Universitas Gadjah Mada.

Wilkinson, P., (2008). “Formalising” Parattransit Operations in African Cities: Constructing A Research Agendaed.^eds. Conference Organised Planners, Pretoria, South African: Document Transpormation Technologies cc, 480-490.

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s