PERAN SEORANG PERENCANA (PLANNER) DALAM MEMIMPIN PERENCANAAN PEMBANGUNAN KOTA

           Oleh: Zeji Mandala_Master in Urban and Regional Planning_ Universitas Gadjah Mada_Juni 2013

             Indonesia merupakan salah satu negara besar, wilayahnya sangat luas dan berbentuk kepulauan, memanjang dari sabang yang terletak paling ujung barat Indonesia hingga merauke yang terletak di ujung timur Indonesia dan melintang dari pulau miangas dan marore yang terletak paling ujung utara Indonesia hingga pulau timor yang terletak paling ujung selatan Indonesia. Selain itu, Indonesia memiliki kekuatan besar yang tergabung dalam 33 provinsi yang meliputi sekitar 524 Kabupaten dan Kota. Jumlah penduduk Indonesia sekitar 225 Juta Jiwa, terbesar ke-lima di dunia setelah cina (1,3 Milyar Jiwa) dan India (1 Milyar Jiwa), Amerika Serikat (300 Juta Jiwa) dan Rusia (275 Juta Jiwa). Di samping itu, dengan memilikinya keunggulan dan kekuatanya, namun Indonesia masih memiliki berbagai permasalahan-permasalahn yang harus diselesaikan secara seksama di berbagai bidang  seperti: kemiskinan, pengangguran, kemerosotan moral dan akhlak, eksploitasi lahan tanpa memperhatikan keberlanjutan lingkungan, kemacetan, pemborosan energi, korupsi dan lain sebagainya.

            Indonesia merupakan negara yang luas dan kaya akan sumber daya alam namun memiliki beberapa masalah. Salah satu masalahnya adalah masalah perencanaan pembangunan kota yang berdampak pada kemiskinan, kemacetan, banjir dan sebagainya. Perencanaan pembangunan kota di Indonesia berkembang seperti tidak jelas arahnya dan wajah kota yang semrawut (tidak teratur). Hal ini satu kemungkinan adanya perencanaan dan pembangunan kota yang salah sehingga bukan menyelesaikan masalah malahan menimbulkan masalah baru. Kota-kota yang berhasil adalah kota-kota yang minimal mampu memberikan ruang publik yang nyaman dan bersih, kemiskinan yang tidak terlalu tampak, tempat-tempat kumuh yang tak terlihat, kemacetan dan kebanjiran yang teratasi dan sebagainya.

            Sekalipun demikian, memang setiap kota masing-masing mempunyai karakter permasalahan yang berbeda-beda dan  cara penyelesaiannya juga berbeda. Tampaknya, Indonesia pada saat ini membutuhkan peran seorang perencana pembangunan kota yang mampu menyelesaikan permasalahan di atas. Peran perencana (planner) bagi Indonesia sangatlah penting dalam menyelesaikan permasalahan-permasalahan kota yang kompleks seperti di Jakarta, Semarang, bandung dan kota-kota besar lainnya. Perencana merupakan “Manajer Crisis“ yang dibutuhkan untuk menstabilkan ekonomi, sosial dan lingkungan untuk berjalan secara seimbang dan menciptakan keberlanjutan (sustainability). Selain itu, peran perencana harus mampu menciptakan kondisi untuk “pertumbuhan yang seimbang” dengan bersikap REPRESI yaitu sebagai power kebijakan, KOOPTASI yaitu mampu membeli secara politik atau ekonomi dan INTEGRASI yaitu mampu untuk mencoba menyelaraskan (Harvey, 1996).  Philosofi seorang planner adalah seorang problem solver yaitu seorang yang mampu memberikan solusi dalam menyelesaikan permasalahan yang memfokuskan pada sistem perencanaan dan proses-proses pengambilan keputusan yang tepat dengan tujuan untuk melayani kepentingan publik di kota-kota, pinggiran kota, dan pedesaan.

            Peran seorang planner dalam menyelesaikan permasalahan tentu sangat berat tetapi dengan analisa dan memilih alternatif solusi yang matang maka kebijakan yang akan diambil pun nantinya akan menyelesaikan permasalahan yang ada. Peran perencana sebaiknya tidak hanya sebagai aktor dalam perencanaan pembangunan kota yang tidak turun langsung kepada masyarakat. Akan tetapi, pada saat ini seorang perencana haruslah terjun ke masyarakat melihat permasalahan masyarakat secara langsung dari berbagai aspek kehidupan seperti sosial, ekonomi dan lingkungan yang menjadi permasalahan wilayah dan kota sehingga permasalahan yang dapat terselesaikan dengan efektif dan efisien sesuai tujuan dan sasaran perencanaan.

Daftar Pustaka:

Harvey, D., (1996). On Planning The Ideologi of Planning. In S. Campbell & S.S. Fainstein (eds.) Malden, Massachusetts USA: Blackwell 169-175

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s