KRITIK TERHADAP TEORI PERENCANAAN (PLANNING THEORY) DALAM KONTEKS PEMBANGUNAN KOTA

Sebuah kritik terhadap teori perencanaan dalam buku “Readings in Planning Theory” (Scott Campbell dan Susan S. Fainstein)

Oleh: Zeji Mandala_Master in Urban and Regional Planning_ Universitas Gadjah Mada_Juni 2013

I.  TINJAUAN TEORI PERKEMBANGAN TEORI PERENCANAAN DUNIA

Teori perencanaan mengalami perkembangan ketika terjadinya perencanaan kota modern (Modern City Planning). Hal ini ditunjukan dengan adanya konsep perencanaan kota modern diantaranya:

1.      Konsep Garden City (Ebenezer Howard:1898) yang menekankan pada ide utama (1) Penghargaan terhadap keindahan alam (country lifestyle), (2) Aksesibilitas ke pusat-pusat pelayanan (commerce and trade), (3) Akses terhadap keamanan hidup, perumahan yang layak, kemudahan untuk bersosialisasi dan kesempatan untuk berpartisipasi dalam komunitas (town lifestyle).

2.      Konsep  Broadacre City (Frank Lloyd Wright: 1932) yang menekankan dalam upaya penggabungan idealis dari perdesaan dan perkotaan, tanpa melalui kawasan pinggiran kota (suburb).

3.      Konsep Radiant City (Le Corbusier : 1924) yang menekankan pada pengembangan pusat kota Radiant City dengan blok-blok apartemen pencakar langit (unites) setinggi 50 meter dengan jumlah maksimal orang di dalamnya adalah 2.700 jiwa.

4.      Konsep City Beautiful Movement (Daniel Burnham’s:1910) yang menekankan pada perbaikan kota  dengan mempercantiknya (beautification) pada sektor: sanitasi, estetika, pebangunan civic center dan desain bangunan.

Howard, Wright, Le Corbusier dan Daniel secara konsisten menolak anggapan bahwa imajinasi atau karya dari para perencana harus dibatasi dengan sistem yang mengikat. Akan tetapi, dalam kurun waktu tertentu perencanaan yang diungkapkan oleh ke empat tokoh ini mengalami kegagalan karena hanya bercermin pada aspek fisik yang tanpa memperhatikan aspek/bidang lainnya.

Dalam perkembangan selanjutnya, konsep paradigma perencanaan berubah menjadi konsep master plan yang dituangkan dalam perencanaan menyeluruh yang rasional (Rational Comprehensive Planning). Rational Comprehensive Planning merupakan suatu kerangka pendekatan atau metode pembuatan keputusan yang disusun secara teratur dan logis (Banfield dalam Faludi dalam Saraswati). Akan tetapi, dalam prakteknya ternyata perencanaan menyeluruh tidak dapat menjawab seluruh aspek perencanaan, sehingga kritik terhadap kelemahan model tersebut mulai muncul sejak dekade 1960-an, yaitu kritik terhadap keefektifan London Masterplan buatan Sir Patrick Abercrombie. Hal ini menunjukan bahwa Rational Comprehensive Planning memiliki kelemahan-kelemahan dalam proses dan implentasi rencana seperti (1) membutuhkan keandalan, ketersediaan dan validitas data yang sangat tinggi sehingga membutuhkan waktu yang lama, (2) Produk perencanaan berupa master plan dirasakan kurang memberikan informasi dan arahan mengenai penanganan masalah, (3) Belum siapnya kelembagaan yang mapan yang menimbulkan adanya kehilangan koordinasi (Sujarto, 1990).

Dengan adanya kelemahan-kelemahan tersebut Lindblom (1960) memandang pentingnya adanya alternative pendekatan yang berfungsi menjembatani antara perencanaan komprehensif jangka panjang dengan perencanaan proyek jangka pendek. Di sini kemudian muncul model perencanaan succesive limited comparisons/branch method karena lebih efisien dan tidak dibatasi oleh keterbatasan kapasitas intelektual dan sumber informasi yang mencoba menjawab kelemahan perencanaan rasional menyeluruh (rational comprehensive planning/root methode).

Selanjutnya dalam pemahaman tentang karakteristik dasar sejarah perencanaan yang dikemukakan oleh Krueckeber dalam Campbell dan Fainstein (1996) terdiri dari: (1)  penetapan kurun waktu para pelopor perencananya; (2) periode kelembagaan, profesionalisasi, dan pengakuan perencanaan regional dan perencanaan federal; dan (3) era pasca perang, masa krisis, dan diversifikasi perencanaan.

Sebagai contoh teori-teori perencanaan di Amerika pada dekade 60-an tidaklah terlepas dari sejarah kehidupan bangsa Amerika, dengan berbagai konflik tentang deskriminasi rasial dan ketidak adilan sosial, kemiskinan yang masih melanda sebagian besar warga negara Amerika yang berkulit hitam pada saat itu baru mulai membuka mata para perencana, bahwa pada hakekatnya perencanaan pembangunan harus pula melihat segi-segi sosial serta peran serta masyarakat dalam pembangunan (David Harvey,1980).

Oleh karena itu, teori perencanaan identik dengan munculnya model-model pendekatan perencanaan seperti procedural planning, radical planning, communicative planning, collaborative planning, dan lain-lain. Friedman (1987)  dalam saraswati menjelaskan runtutan perjalanan teori perencanaan ke dalam 4 tahapan yaitu: (1)  Reformasi Sosial (Social Reform); (2) Analisis Kebijakan (Policy Analysis); (3) Pembelajaran Sosial (Social Learning); dan (4) Mobilisasi Sosial (Social Mobilization).

 ALIRAN POST POSITIVIST

Post Positivist sebagai suatu aliran dalam teori perencanaan menekankan konteks sosial dan politik dalam konsepsinya. Pemikiran ini mencakup kolaboratif, postmodern, dan pendekatan neo-pragmatisme. Post Positivist mengenyampingkan perbedaan antara substantif  dan prosedural dan gap antara teori dan praktis, lebih pada penafsiran teori perencanaan yang konsisten sebagai gagasan yang dapat diatur dan diaplikasikan pada suatu  daerah, baik nasional, sub nasional, dan lokal atau pada tatanan skala supra nasional. (Almendinger, 2002 dalam Saraswati 2008). Seperti aliran-aliran feminisme, postpositivist menggunakan pemahaman post modernisme dalam teori sosial. Dalam dua dekade terdahulu, teori perencanaan didominasi oleh  pemahaman “post” yaitu post modern, post structuralis, dan post positivist.

Denagan demikian, secara garis besar, teori perencanaan berkembang dari alur besar instrumental rasionalitas menuju komunikatif rasionalitas, yaitu mengalir dari alur pengetahuan kewenangan ke alur pelibatan berbagai pihak dalam perencanaan. Komunikatif rasionalitas dikemas dan dikategorikan dalam teori perencanaan komunikatif (Communicative Planning Theory) dalam bentuk konsep yang beragam, seperti  advocacy planning, transactive planning, participatory planning.

Di bawah ini gambar perkembangan teori perencanaan sebagai berikut:

 Perkembangan Teori Perencanaan

 III. KRITIK TERHADAP TEORI PERENCANAAN

Meninjau perkembangan teori perencanaan diatas, beberapa kritik yang muncul dari penulis sebagai berikut:

1.      Dalam pembangunan kota dan wilayah membutuhkan adanya konsep perencanaan yang berlandaskan pada paradigma perencanaan yang berbasiskan kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, hiruk pikuk politik kepentingan masing-masing komunitas merupakan sebuah tantangan besar dalam era demokrasi dan globalisasi saat ini. Maka muncul sebuah pertanyaaan, mendahulukan membangun suatu model perencanaan ataukah mengedepankan dalam implementasi perencanaan berbasis masyarakat sehingga perencanaan dapat terimplementasikan? Ataukah kedua-duanya berjalan seimbang?

2.      Teori perencanaan mengalami perkembangan sejak 1980an-sekarang baik yang hanya mengedepankan fisik dan ekonomi, menyeluruh semua aspek, prioritas penanganan masalah maupun mengedepankan partisipasi masyarakat dalam pembangunannya yang kesemuanya memiliki prinsip, karakter dan tujuan masing-masing. Selain itu, perlu kita sadari bahwa negara-negara di dunia memiliki memiliki karakter yang berbeda-beda baik dari sisi sosial, politik, religius, budaya dan fisik/lingkungan sehingga membutuhkan adanya model/konep perencanaan yang tidak hanya bisa diterapkan disatu negara akan tetapi di berbagai negara baik negara berkembang maupun negara maju yang notabennya memiliki karakter yang berbeda.

3.      Para teoritis teori perencanaan memiliki pandangannya masing-masing sesuai disiplin ilmu. Terkadang memiliki kritik yang keras diantara masing-masing teoritis yang menimbulkan perpecahan dan tidak lagi memiliki kesepakatan yang kuat terhadap teori perencanaan global.

4.      Secara substansi kritik penulis terhadap teori perencanan dapat digambarkan sebagai berikut:

Tabel 3.1 Kritik terhadap teori perencanaan dalam konteks pembangunan kota

No

Teori/Konsep Perencanaan

Kritik terhadap teori

1. Konsep Garden City Perencanaan yang hanya mempertimbangkan aspek fisik yitu kenyamanan keindahan, dan nilai benefit ekonomi dalam pembangunan kota.
2. City Beautiful Movement Perencanaan  pembangunan kota yang hanya mempertimbangkan aspek fisik keindahan dengan menutupi permasalahan daerah sekitar yang masih kumuh (sprawl).
3. Radian City Perencanaan  pembangunan kota yang hanya mempertimbangkan aspek fisik pusat kota tanpa memperhatikn daerah sekitar yang masih banyak terdapat kawasan yang kumuh sehingga hl ini menimbulkan kesenjanga sosial.
4. Broadcare City Perencanaan  pembangunan kota yang hanya penggabungan idealis dari perdesaan dan perkotaan, tanpa melalui kawasan pinggiran kota (suburb).
5. Master Plan Perencanaan  pembangunan kota yang mempertimbangkan semua aspek kehidupan namun sulit untuk direalisasikan karena keterbatasan sumber daya manusia.
6. Model Pendekatan Perencanaan Perencanaan  pembangunan kota yang sudah mengarah pada adanya partisipasi masyarakat namun harus memilki seorang perencana yang memang dekat dengan masyarakat.
7. Post Modernisme, Poststrukturalis, Post Positivis Perencanaan  pembangunan kota  yang menekankan konteks sosial dan politik dalam konsepsinya namun pada implementasinya banyak yang tidak sesuai karena membutuhkan waktu yang lama padahal target pembangunan hanya mempunyai jangka waktu 1-5 tahun.
8. Feminisme Perencanaan  pembangunan kota  yang menekankan pada gender tetapi bentuk perencanaannya sulit di tafsirkan.

Sumber: dikonstruksikan dari hasil pemikiran penulis dari berbagai sumber

 

III.             TEORI BARU DALAM VERSI PENULIS

Dalam merumuskan teori baru versi penulis, penulis tidak akan mengkonstruksikan teori baru versi penulis dikarenakan membutuhkan penelitian lebih mendalam tetapi hanya merekonstruksikan teori yang sudah ada ke dalam sebuah kerangka rekomendasi perencanaan pembangunan kota versi penulis. Adapun kerangka rekomendasi versi penulis adalah sebagai berikut:

 Kerangka Konsep Perencanaan Pembangunan Kota

Kerangka di atas dapat dijelaskan sebagai berikut:

1.      Selama kurun waktu tertentu perkembangan teori perencanaan mengalami pemudaran yang hanya mempertimbangkan fisik, ekonomi, rasionalitas dan aspek lingkungan. Jadi, diperlukan adanya aspek merekonstruksi masyarakat dalam sebuah pembangunan kota dengan menerapkan teori ke dalam praktek lapangan sebagai proses pengambilan keputusan.

2.      Merubah philosofi seorang planner yang tadinya sebagai aktor dalam perencanaan pembangunan kota yang tidak turun langsung kepada masyarakat maka dalam konteks kerangka ini seorang perencana harus terjun ke masyarakat melihat permasalahan masyarakat secara langsung dengan melihat berbagai aspek kehidupan seperti sosial, ekonomi dan lingkungan.

DAFTAR PUSTAKA

Campbell, Scott and Fainstein, Susan. S, ed., (1996), Readings in Planning Theory, Blackwell Publisher.

Friedman, John., (1987), Planning in The Public Domain, From Knowledge to Action, Princeton University Press.

Harvey, D., (1996). On Planning The Ideologi of Planning. In S. Campbell & S.S. Fainstein (eds.) Malden, Massachus
etts USA: Blackwell 169-175.

Sujarto, Djoko., (2003), Perencanaan Tata Ruang., Institut Teknologi. Bandung.

Saraswati, Kearifan Budaya Lokal Dalam Perspektif Teori Perencanaan. PWK UNISBA

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

2 Balasan ke KRITIK TERHADAP TEORI PERENCANAAN (PLANNING THEORY) DALAM KONTEKS PEMBANGUNAN KOTA

  1. Thanks for ur blog. It’s very helpful for me to learn planning.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s