ETIKA DAN KRISIS HUTAN DI INDONESIA

Oleh: Zeji Mandala_Master in Urban and Regional Planning_ Universitas Gadjah Mada_Juni 2013

Indonesia memiliki 10 persen hutan tropis  terbesar di dunia. Indonesia menempati urutan ke tiga setelah Brazil dan Republik Demokrasi Kongo. Tipe hutan di Indonesia adalah hutan Dipterocarpaceae yaitu hutan dengan dataran rendah yang selalu hijau. Jenis hutan berikutnya yang dimiliki Indonesia adalah hutan Mangrove dengan luas  4,5  juta hektare dan termasuk hutan mangrove terbaik di Asia. (Pasaribu dalam bangka pos, 2011).

 Fauziah dalam Jawa Pos, (Maret 2011) menegaskan dalam opininya bahwa kondisi hutan Indonesia saat ini sangat memprihatinkan. Dalam kurun waktu tahun 1950 – 1980 terjadi kerusakan besar-besaran, Fauziah mencatat antara lain:

1.      Tahun 1950-1960 terjadi kerusakan hutan besar-besaran dengan alasan untuk kepentingan pertanian serta perkebunan dalam skala besar.

2.      Tahun 1970-an deforestasi semakin parah karena peningkatan aktivitas perekonomian bangsa, khususnya sektor industri perkayuan.

3.      Tahun 1980-an atas nama ekonomi, penebangan hutan secara komersial dibuka besar-besaran ditambah dengan maraknya pembalakan hutan liar, tebang habis (land clearing), pengembangan wilayah transmigrasi, dan lainnya.

Oleh karena itu, pada periode 1997-2000, Green Peace  mencatat tingkat kerusakan hutan di Indonesia mencapai  3,8 juta hektare setiap tahun atau dua kali lebih cepat dibandingkan sebelumnya. Dengan melihat keprihatinan tersebut Resolusi Perserikatan Bangsa Bangsa  (PBB)  63/193  memproklamasikan  bahwa tahun 2011  sebagai  tahun kehutanan international dengan tema  Forest  for  People yang bertujuan untuk  meningkatkan kesadaran serta memperkuat  pengelolaan  kehutanan  secara  berkelanjutan di  seluruh  dunia.

Manusia mempunyai tanggung jawab moral terhadap lingkungan. Isi tanggung jawabnya dalam konteks ekonomi dan bisnis adalah melestarikan lingkungan hidup atau memamfaatkan sumber daya alam sedemikian rupa sehingga kualitas lingkungan tidak dikurangi, tetapi bermutu sama seperti sebelumnya. Permasalahan etika lingkungan yang terjadi dalam kasus krisis hutan di Indonesia adalah adanya egoisme (kepentingan diri) yang didasarkan dalam tindakan manusia berupa kerakusan emosional nilai ekonomi maka diperlukan adanya etika normatif. Etika normatif ini didasarkan pada 3 prinsip yang harus dijadikan dasar dalam tindakan yaitu adanya pembangunan karakter yang baik (teori vital), kewajiban mendasar yang prinsipal (teori kewajiban) dan mendatangkan lebih kebaikan dari pada keburukan (teori konsekuensi).

 Dengan demikian, langkah ke depan dibutuhkan adanya pengelolaan lingkungan hidup hutan dengan prinsip pengorbanan menjaga lingkungan hidup (althuisme) yaitu:

1.      Tindakan pro lingkungan dalam menjaga hutan sebagai paru-paru dunia

2.      Adanya instrumen pengaturan dan pengawasan dalam pemanfaatan hutan dengan prinsip keberlanjutan (sustainablity).

3.       Mengubah egoisme negatif menjadi egoisme positif yang pro terhadap lingkungan.

4.      Adanya partisipasi masyarakat untuk mencapai pemberdayaan (enabling).

Daftar Pustaka:

Pasaribu. (2011). Selamatkan Babel dari Krisis Ekologi Bangka pos.

Fauziah. (2011). Kondisi Hutan Indonesia Jawa Pos.

(Pbb), P.B.B., (2011). Forest  for  People In I. Pbb (ed.), 63/193

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s