Fenomena Kemiskinan di Indonesia masih menjadi Pekerjaan Rumah (PR) bagi Pemerintah

          ” Fenomena Kemiskinan di Indonesia masih menjadi Pekerjaan Rumah (PR) bagi Pemerintah”

Oleh : Zeji Mandala, PWK UGM

               Mendengar nomenklatur kemiskinan,dan kerentanan memang  sangat sering terdengar dan menjadi momok di setiap hampir seluruh wilayah di Indonesia. Fenomena kemiskinan di Indonesia ini, tentu saja menjadi sebuah Pekerjaan Rumah (PR) bagi pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan/kerentanan tersebut. Hal ini merupakan sebuah ketidakmungkinan bagi pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan tersebut.

Dok. Hasil wawancara ” Aktivitas Pak Wagiman sebagai Tukang Tambal Ban”

           Sebagai salah contoh konkrit di lapangan yang berhasil penulis wawancarai adalah Pak Wagiman. Beliau adalah seorang Tukang Tambal Ban di pinggir jalan yang belum memiliki tempat tetap yang beralamat rumah di Pogung Rejo Kecamatan, Mlati, Sleman Yogyakarta. Pak Wagiman ini memilki anggota keluarga sebanyak 4 orang yakni 1 istri dan 3 orang anak.

            Setelah penulis menanyakan, berapa penghasilan bapak dalam satu hari? Apakah sudah mencukupi untuk biaya hidup keluarga bapak?. Beliau menjawab sambil tersenyum, wah…mas…mas… “Boro-boro” mencukupi masih kurang untuk biaya hidup (makan) saja hampir setiap hari satu keluarga akan hanya sama sayur tanpa lauk. Penghasilan bapak itu 15.000 per hari, ini saja kalau ada ban yang bocor atau tambah angin kalau tidak ada motor/mobil/sepeda yang bocor dalam satu hari itu, bapak tidak mendapatkan uang untuk keluarga dirumah.Tutur beliau.

            Selanjutnya penulis bertanya kembali, dengan kondisi seperti ini bapak punya keinginan untuk bisa menjadi lebih baik? Beliau menjawab, “Sangat menginginkan sekali mas” keinginan dari tukang tambal yang belum memilki lapak menjadi punya lapak tambal ban tapi masalahnya bapak tidak punya modal untuk membangun lapak tersebut. Pemerintah juga tidak peduli untuk dapat menyediakan tempat bagi bapak untuk bisa membangun lapak. Terus pelatihan-pelatihan keterampilan juga sudah bapak ikuti tapi tidak ada tindak lanjut yang jelas dari pemerintahnya hanya dapet sertifikat. Tutur beliau.

            Dari fenomena di atas bahwa kemiskinan di Indonesia masih banyak walaupun secara kuantitatif data Badan Pusat Statistik (BPS) mengatakan bahwa kemiskinan di Indonesia turun. Fenomena hal ini di karenakan kemiskinan .di Indonesia disebabkan oleh 2 dua sebab yakni:

  1. Kemiskinan Struktural yang disebabkan oleh masyarakat Indonesia yang memiliki kemauan berusaha untuk bisa keluar dari garis kemiskinan. Akan tetapi banyak hambatan yang ada, seperti: ketidakmampuan dalam membeli sarana prasarana, tidak adanya fasilitator yang berguna untuk melatih secara kontinue serta tidak memiliki waktu sisa untuk mengebangkan potensi diri.
  2. Kemiskinan Kultural yang disebabkan oleh masyarakat Indonesia yang tidak memiliki keinginan untuk berusaha karena kesadaran untuk mengembangkan diri kecil (MALAS) dan berpola pikir pasrah atas nasib yang sudah sekarang terjadi.

            Pada kasus pak wagiman di atas bahwa beliau termasuk pada masyarakat miskin/rentan struktural yakni memiliki kemauan berusaha untuk bisa keluar dari garis kemiskinan. Akan tetapi banyak hambatan yang ada salah satunya adalah minimnya sarana-prasarana dan fasilitator pelatihan ketermapilan bagi masyarakat.

            Dengan demikian, melihat fenomena di atas harapannya pemerintah tidak hanya menciptakan lapangan kerja baru bagi masyarakat yang berpendidikan akan tetapi melihat masyarakat yang tidak berpendidikan dan melihat akan kebutuhan bagi masyarakat miskin/rentan yang menginginkan untuk mengembangkan potensi diri agar terlepas dalam kemelut lingkaran kemiskinan.

Sumber: Survey Lapangan “Wawancara”  Maret Tahun 2012.

Narator : Zeji Mandala Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Gadjah Mada (UGM) semester 6 dan Penerima Beasiswa Unggulan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Program Sarjana Tahun 2011-2013 (ISR).

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s